KEUTAMAAN MENUNTUT
ILMU
ASSALAMUALAIKU, WR WB
Alhamdulillah,alhamdulllah hirabbal alamin
,Asshalatuwassalamuala asrafil ambiya’l walmursalin waala alihi wasahbihi
ajmain amma ba’du.
Pertama tama yang paling utama marilah kita
panjatkan puja dan puji syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita
nikmat dan kesehatan sehingga kita dapat
berkumpul di tempat yang mulia ini.
Shalawat serta salam tak lupa juga kita tuturkan
kepada nabi kita yaitu Rasulullah SAW.pada kesempatan ini saya akan membawakan
sebuah khotbah yang berjudul menuntut ilmu.
Islam merupakan agama yang punya
perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk
terus menuntut ilmu.
Dalam surat Ar-Rahman, Allah
menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pengajar (‘Allamahu
al-Bayan) bagi umat Islam. Dalam agama-agama lain selain Islam kita
tidak akan menemukan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk
belajar.
Ayat pertama yang diturunkan
Allah adalah Surat Al-‘Alaq, di dalam ayat itu Allah memerintahan kita untuk
membaca dan belajar. Allah mengajarkan kita dengan qalam – yang sering kita artikan dengan pena.
Akan tetapi sebenarnya kata qalam juga dapat diartikan
sebagai sesuatu yang yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada
orang lain. Kata Qalam
tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang
lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perangkatnya
termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam.
Dalam surat Al-‘Alaq, Allah Swt
memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah
mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada
dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan
mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua,
berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita artikan
sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan
kita kepada generasi berikutnya.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا
مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa
derajat." (Al-Mujaadilah:11)
Dalam ajaran Islam, baik dalam
ayat Qur’an maupun hadits, bahwa ilmu pengetahuan paling tinggi nilainya
melebihi hal-hal lain. Bahkan sifat Allah Swt adalah Dia memiliki ilmu yang
Maha Mengetahui. Seorang penyair besar Islam mengungkapkan bahwa kekuatan suatu
bangsa berada pada ilmu. Saat ini kekuatan tidak bertumpu pada kekuatan fisik
dan harta, tetapi kekuatan dalam hal ilmu pengetahuan. Orang yang tinggi di hadapan
Allah Swt adalah mereka yang berilmu.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ
وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ
إِلاَّ أُولُو الأَلْبَابِ
"Allah menganugrahkan
Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa
yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia
benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (Al-Baqarah:269)
Dalam sebuah hadits, Nabi
Muhammad Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak
ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban
menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Maka bukan hal yang asing jika waktu
itu kita mendengar bahwa Islam memegang peradaban penting dalam ilmu
pengetahuan. Semua cabang ilmu pengetahuan waktu itu didominasi oleh Islam yang
dibangun oleh para ilmuwan Islam pada zaman itu yang berawal dari kota Madinah,
Spanyol, Cordova dan negara-negara lainnya. Itulah zaman yang kita kenal dengan
zaman keemasan Islam, walaupun setelah itu Islam mengalami kemunduran. Di zaman
itu, di mana negara-negara di Eropa belum ada yang membangun perguruan tinggi,
negara-negara Islam telah banyak membangun pusat-pusat studi pengetahun.
Sekarang tugas kita untuk mengembalikan masa kejayaan Islam seperti dulu
melalui berbagai lembaga keilmuan yang ada di negara-negara Islam.
Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan
bahwa orang yang mulia di sisi Allah hanya karena dua hal; karena imannya dan
karena ketinggian ilmunya. Bukan karena jabatan atau hartanya. Karena itu dapat
kita ambil kesimpulan bawa ilmu pengetahuan harus disandingkan dengan iman.
Tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Perpaduan antara ilmu pengetahuan dan
iman akan menghasilkan peradaban yang baik yang disebut dengan Al-Madinah al-Fadhilah.
Dalam menuntut ilmu tidak
mengenal waktu, dan juga tidak mengenal gender. Pria dan wanita punya
kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu. Sehingga setiap orang, baik pria
maupun wanita bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Allah Swt kepada
kita sehingga potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang
diharapkan. Karena itulah, agama menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk
bagian dari ibadah. Ibadah tidak terbatas kepada masalah shalat, puasa, haji,
dan zakat. Bahkan menuntut ilmu itu dianggap sebagai ibadah yang utama, karena
dengan ilmulah kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya dengan benar.
Imam Ja’far As-Shadiq pernah berkata: “Aku sangat senang dan sangat ingin agar
orang-orang yang dekat denganku dan mencintaiku, mereka dapat belajar agama,
dan supaya ada di atas kepala mereka cambuk yang siap mencambuknya ketika ia
bermalas-malasan untuk menuntut ilmu agama”.
Ajaran agama Islam yang
menekankan kewajiban menuntut ilmu tanpa mengenal gender. Karena menuntut ilmu
sangat bermanfaat dan setiap ilmu pasti bemanfaat. Kalau kita dapati ilmu yang
tidak bermanfaat, hal itu karena faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Sedangkan ilmu itu sendiri pasti sesuatu yang bermanfaat.
اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
Carilah
ilmu sekalipun di negeri Cina.
عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِيْ يُعَلِّمُالنَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْئُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ
Dari
Jundub bin Abdillah berkata: Rasulullah bersabda: “Perumpamaan seorang berilmu
yang mengajarkan kebaikan kepada manusia tetapi melupakan dirinya seperti lampu
yang menyinari manusia tetapi membakar dirinya sendiri”
Sekian khotbah
dari saya ,mudah mudahan yang mendengarkan mendapat pahala disisi Allah
SWT.kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.Wabllahi taufik walhidayah.
Wassalamualaikum Wr Wb.